Minggu, 27 Mei 2012

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)


BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)

       I.            Pendahuluan

Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang terletak di sebelah inferior bulibuli
dan membungkus uretra posterior Paling sering mengalami pembesaran, baik
jinak maupun ganas Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars
prostatika dan menghambat aliran urin keluar dari buli-buli.Benign Prostate
Hyperplasia (BPH) merupakan Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) yang menghambat
aliran urin dari buli-buli.Pembesaran ukuran prostat ini akibat adanya hiperplasia
stroma dan sel epitelial mulai dari zona periurethra.
Gambar 1. Perbedaan aliran urin dari buli-buli pada prostat normal dan
prostat yang mengalami pembesaran

Bentuk kelenjar prostat sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang
dewasa ± 20 gram. Mc Neal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona,
antara lain: zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior
dan zona periurethra. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona
transisional, sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.
    II.            Insiden & Epidemiologi

Di seluruh dunia, hampir 30 juta pria yang menderita gejala yang berkaitan
dengan pembesaran prostat, di USA hampir 14 juta pria mengalami hal yang sama.
BPH merupakan penyakit tersering kedua di klinik urologi di Indonesia setelah batu
saluran kemih.Sebagai gambaran hospital prevalence, di RS Cipto Mangunkusumo
ditemukan 423 kasus pembesaran prostat jinak yang dirawat selama tiga tahun (1994-
-1997) dan di RS Sumber Waras sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama.
Penduduk Indonesia yang berusia tua jumlahnya semakin meningkat,
diperkirakan sekitar 5% atau kira-kira 5 juta pria di Indonesia berusia 60 tahun atau
lebih dan 2,5 juta pria diantaranya menderita gejala saluran kemih bagian bawah
(Lower Urinary Tract Symptoms/LUTS) akibat BPH. BPH mempengaruhi kualitas
kehidupan pada hampir 1/3 populasi pria yang berumur > 50 tahun.

 III.            Etiologi

Hingga sekarang, penyebab BPH masih belum dapat diketahui secara pasti,
tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan
peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis
yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat:

1. Teori dihidrotestosteron
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon
testosteron. Dimana pada kelenjar prostat, hormon ini akan dirubah menjadi
metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5 α –
reduktase. DHT inilah yang secara langsung memicu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu
pertumbuhan kelenjar prostat.

Pada berbagai penelitian, aktivitas enzim 5 α – reduktase dan jumlah
reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel
prostat menjadi lebih sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih
banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal.

2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang makin tua, kadar testosteron makin menurun,
sedangkan kadar estrogen relatif tetap, sehingga perbandingan estrogen :
testosteron relatif meningkat. Estrogen di dalam prostat berperan dalam
terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan
sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen,
meningkatkan jumlah reseptor androgen dan menurunkan jumlah kematian
sel-sel prostat (apoptosis). Akibatnya, dengan testosteron yang menurun
merangsang terbentuknya sel-sel baru, tetapi sel-sel prostat yang telah ada
mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat menjadi lebih
besar.

3. Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan selsel
epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui
suatu mediator (growth factor). Setelah sel stroma mendapatkan stimulasi dari
DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth factor yang
selanjutnya mempengaruhi sel stroma itu sendiri, yang menyebabkan
terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun stroma.

4. Berkurangnya kematian sel prostat
Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik
homeostatis kelenjar prostat. Pada jaringan nomal, terdapat keseimbangan
antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Berkurangnya jumlah sel-sel
prostat yang apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan
makin meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan massa prostat.
Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel
karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel
kelenjar prostat.

5. Teori sel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu
dibentuk sel-sel baru. Dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel
yang mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel
ini bergantung pada hormon androgen, dimana jika kadarnya menurun
(misalnya pada kastrasi), menyebabkan terjadinya apoptosis. Sehingga
terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH diduga sebagai ketidaktepatan aktivitas
sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel
epitel.

 IV.            Patofisiologi Hiperplasia Prostat

Pembesaran prostat menyebabkan terjadinya penyempitan lumen uretra pars
prostatika dan menghambat aliran urin sehingga menyebabkan tingginya tekanan
intravesika. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat
guna melawan tahanan, menyebabkan terjadinya perubahan anatomik buli-buli,
yakni: hipertropi otot destrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut dirasakan sebagai
keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptoms
(LUTS).

Tekanan intravesika yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak
terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini
menimbulkan aliran balik dari buli-buli ke ureter atau terjadinya refluks vesikoureter.
Jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis bahkan
jatuh ke dalam gagal ginjal.



    V.            Manifestasi Klinis

1)      Anamnesa

1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Manifestasi klinis timbul akibat peningkatan intrauretra yang pada akhirnya
dapat menyebabkan sumbatan aliran urin secara bertahap. Meskipun manifestasi dan
beratnya penyakit bervariasi, tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan penderita
datang berobat, yakni adanya LUTS.
Keluhan LUTS terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif. Gejala obstruksi
antara lain: hesitansi, pancaran miksi melemah, intermitensi, miksi tidak puas,
menetes setelah miksi. Sedangkan gejala iritatif terdiri dari: frekuensi, nokturia,
urgensi dan disuri.
Untuk menilai tingkat keparahan dari LUTS, bebeapa ahli/organisasi urologi
membuat skoring yang secara subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien.
Sistem skoring yang dianjurkan oleh WHO adalah international Prostatic Symptom
Score (IPSS). Sistem skoring IPSS terdiri atas 7 pertanyaan yang berhubungan
dengan keluhan LUTS dan 1 pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup
pasien. Dari skor tersebut dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat,
yaitu:
Ringan : skor 0-7
Sedang : skor 8-19
Berat : skor 20-35

2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan dapat berupa gejala obstruksi antara lain, nyeri pinggang, benjolan di
pinggang (hidronefrosis) dan demam (infeksi, urosepsis).

3. Gejala diluar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia
inguinalis atau hemoroid, yang timbul karena sering mengejan pada saat miksi
sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.

2)      Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang penuh dan teraba
massa kistik si daerah supra simpisis akibat retensi urin. Pemeriksaan colok dubur
atau Digital Rectal Examination (DRE) merupakan pemeriksaan fisik yang penting
pada BPH, karena dapat menilai tonus sfingter ani, pembesaran atau ukuran prostat
dan kecurigaan adanya keganasan seperti nodul atau perabaan yang keras. Pada
pemeriksaan ini dinilai besarnya prostat, konsistensi, cekungan tengah, simetri,
indurasi, krepitasi dan ada tidaknya nodul.
Colok dubur pada BPH menunjukkan konsistensi prostat kenyal, seperti
meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris, dan tidak didapatkan nodul.
Sedangkan pada karsinoma prostat, konsistensi prostat keras dan teraba nodul, dan
mungkin antara lobus prostat tidak simetri.

Gambar 4. Pemeriksaan Colok Dubur

3)      Pemeriksaan Laboratorium

Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi
atau inflamasi pada saluran kemih. Obstruksi uretra menyebabkan bendungan
saluran kemih sehingga menganggu faal ginjal karena adanya penyulit seperti
hidronefrosis menyebabkan infeksi dan urolithiasis. Pemeriksaan kultur urin
berguna untuk mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus
menentukan sensitivitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Pemeriksaan sitologi urin digunakan untuk pemeriksaan sitopatologi sel-sel urotelium
yang terlepas dan terikut urin. Pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi adanya
diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-buli. Jika
dicurigai adanya keganasan prostat perlu diperiksa penanda tumor prostat (PSA).

4)      Pencitraan

Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih,
batu/kalkulosa prostat atau menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi urin,
yang merupakan tanda retensi urin. Pemeriksaan IVP dapat menerangkan adanya :
- kelainan ginjal atau ureter (hidroureter atau hidronefrosis)
- memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan dengan indentasi
prostat (pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter bagian distal
yang berbentuk seperti mata kail (hooked fish)
- penyulit yang terjadi pada buli-buli, yakni: trabekulasi, divertikel, atau
sakulasi buli-buli
Pemeriksaan IVP tidak lagi direkomendasikan pada BPH. Pemeriksaan USG secara
Trans Rectal Ultra Sound (TRUS), digunakan untuk mengetahui besar dan volume
prostat , adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna sebagai petunjuk untuk
melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan jumlah residual urin dan mencari
kelainan lain pada buli-buli. Pemeriksaan Trans Abdominal Ultra Sound (TAUS)
dapat mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi
BPH yang lama.(purnomo, de jong)




Gambar 5. TransRectal Ultra Sound (TRUS)

Pemeriksaan lain

Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan mengukur:
- residual urin, diukur dengan kateterisasi setelah miksi atau dengan
pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi
- pancaran urin (flow rate), dengan menghitung jumlah urin dibagi dengan
lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan uroflowmetri.



 VI.            Pengobatan

Tujuan terapi:
- memperbaiki keluhan miksi
- meningkatkan kualitas hidup
- mengurangi obstruksi infravesika
- mengembalikan fungsi ginjal
- mengurangi volume residu urin setelah miksi
- mencegah progressivitas penyakit

1. Watchful waiting
Pilihan tanpa terapi ini untuk pasien BPH dengan skor IPSS<7, yaitu keluhan
ringan yang tidak menganggu aktivitas sehari-hari. Pasien hanya diberikan
edukasi mengenai hal-hal yang dapat memperburuk keluhan :
- Jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol
- Kurangi makanan dan minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi, coklat)
- Kurangi makanan pedas atau asin
- Jangan menahan kencing terlalu lama

2. Medikamentosa
Tujuan:
- mengurangi resistensi otot polos prostat dengan adrenergik α blocker
- mengurangi volume prostat dengan menurunkan kadar hormon testosteron
melalui penghambat 5α-reduktase
Selain itu, masih ada terapi fitofarmaka yang masih belum jelas mekanisme
kerjanya.

3. Operasi
Pasien BPH yang mempunyai indikasi pembedahan:1
- Tidak menunjukkan pebaikan setelah terapi medikamentosa
- Mengalami retensi urin
- Infeksi Saluran Kemih berulang
- Hematuri
- Gagal ginjal
- Timbulnya batu saluran kemih atau penyulit lain akibat obstruksi saluran
kemih bagian bawah
Jenis pembedahan yang dapat dilakukan:
- Pembedahan terbuka (prostatektomi terbuka)
Paling invasif dan dianjurkan untuk prostat yang sangat besar (±100 gram).
- Pembedahan endourologi
Operasi terhadap prostat dapat berupa reseksi (Trans Urethral Resection of
the Prostat/TURP), Insisi (Trans Urethral Incision of the Prostate/TUIP)
atau evaporasi.


Gambar 6. Trans Urethral Resection of the Prostat/TURP

Selain tindakan invasif tersebut diatas, sekarang dikembangkan tindakan
invasif minimal, terutama yang mempunya resiko tinggi terhadap pembedahan.
Tindakan tersebut antara lain: termoterapi, Trans Urethral Needle Ablation of the
Prostat/TUNA, pemasangan stent, High Intensity Focused Ultrasound/HIFU
serta dilatasi dengan balon (Transuethral Ballon Dilatation/TUBD).

KARSINOMA KANDUNG KEMIH


       I.            Pendahuluan
Karsinoma kandung kemih / Ca Vesika Urinaria adalah terdapatnya sel kanker pada kandung kemih. Tumor dari kandung kemih berurutan dari papiloma benigna sampai ke carcinoma maligna yang invasif. Kebanyakan neoplasma adalah jenis sel-sel transisi, karena saluran kemih dilapisi epithelium transisi. Neoplasma bermula seperti papiloma, karena itu setiap papiloma dari kandung kemih dianggap pramalignansi dan diangkat bila diketahui. Karsinoma sel-sel squamosa jarang timbul dan prognosanya lebih buruk. Neoplasma yang lain adalah adenocarcinoma.
Kanker kandung kemih dibagi tingkatannya berdasarkan kedalaman tingkat invasifnya yaitu : tingkat O Mukosa, tingkat A Sub Mukosa, Tingkat B Otot, Tingkat C Lemak Perivisial, Tingkat D Kelenjar Limfe.
    II.            Epidemologi
Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah kandung kemih. Kanker kandung kemih terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan dengan pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% pasien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa.
Pada tiga dasawarsa terakhir, kasus kandung kemih pada pria meningkat lebih dari 20 % sedangkan kasus pada wanita berkurang 25%.
 III.            Etiologi dan Predisposisi
 Faktor predisposisi yang diketahui dari kanker kandung kemih adalah karena bahan kimia betanaphytilamine dan xenylamine, infeksi schistosoma haematobium dan merokok.



 IV.            Manifestasi klinis
Hematuria yang tidak disertai rasa nyeri adalah gejala pertamanya pada kebiasaan tumor kandung kemih. Biasanya intermitten dan biasanya individu gagal untuk minta pertolongan. Hematuria yang tidak disertai rasa nyeri terjadi juga pada penyakit saluran kemih yang non malignant dan kanker ginjal karena itu tiap terjadi hematuri harus diteliti. Cystitis merupakan gejala dari tumor kandung kemih, karena tumor merupakan benda asing di dalam kandung kemih.
    V.            Pemeriksaan Ca vesika urinaria
Pemeriksaan cytologi urine dapat memperkenalkan sel-sel maligna sebelum lesi dapat divisualisasikan dengan cystoscopy yang disertai biopsi. Penentuan klinis mengenai tingkatan invasif dari tumor penting dalam menentukan regimen terapi dan dalam pembuatan prakiraan prognose. Tiap orang yang pernah menjalani pengangkatan papilomma harus menjalani pemeriksaan cystoscopy tiap tiga bulan untuk selama dua tahun dan kemudian intervalnya sedikit dijarangkan bila tidak ada tanda-tanda lesi yang baru. Keperluan pemeriksaan yang sering harus dijelaskan oleh ahli urologi dan harus diperkuat oleh perawat.
 VI.            Terapi dan Pengobatan
Tumor-tumor kecil yang sedikit menjangkiti lapisan jaringan dapat ditolong dengan sempurna dengan fulgurisasi transuretra atau dieksisi. Foley kateter biasanya dipasang setelah pembedahan. Air kemih berwarna kemerahan tetapi tidak terjadi perdarahan gross. Rasa panas saat berkemih dapat diatasi dengan minum yang banyak dan buli-buli hangat pada daerah kandung kemih atau berendam air hangat. Pasien boleh pulang beberapa hari kemudian setelah bedah. Bila tumor tumbuh pada kubah kandung kemih harus dilaksanakan reseksi segmental dari kandung kemih. Sistektomi atau pengangkatan seluruh kandung kemih harus dilaksanakan bila penyakit sudah benart-benar ganas.
Radiasi kobalt eksternal terhadap tumor yang invasif sering dilakukan sebelum bedah untuk memperlambat pertumbuhan. Radiasi supervoltase dapat diberikan kepada pasien yang fisikinya tidak kuat menghadapai bedah. Radiasi bukan kuratif dan mutunya hanya sedikit dalam pengelolaan bila tumor tidak mungkin bisa dioperasi. Radiasi internal jarang dipakai karena efeknya yang berbahaya.
Chemotherapy merupakan paliatif. 5- Fluorouracil (5-FU) dan doxorubicin (adriamycin) merupakan bahan yang paling sering dipakai. Thiotepa dapat diamsukkan ke dalam kandung kemih sebagai pengobatan topikal. Pasien dibiarkan menderita dehidrasi 8 sampai 12 jam sebelum pengobatan dengan theotipa dan obat diabiarkan dalam kandung kemih selama dua jam.
















DIAGNOSA KEPERAWATAN & TINDAKAN PADA PASIEN DENGAN KANKER SALURAN KEMIH
1.      Cemas / takut berhubungan dengan situasi krisis (kanker), perubahan kesehatan, sosio ekonomi, peran dan fungsi, bentuk interaksi, persiapan kematian, pemisahan dengan keluarga ditandai dengan peningkatan tegangan, kelelahan, mengekspresikan kecanggungan peran, perasaan tergantung, tidak adekuat kemampuan menolong diri, stimulasi simpatetik.
Tujuan :
-          Pasien dapat mengurangi rasa cemasnya
-          Rileks dan dapat melihat dirinya secara obyektif
-          Menunjukkan koping yang efektif serta mampu berpartisipasi dalam pengobatan
Tindakan :
-          Tentukan pengalaman pasien sebelumnya terhadap penyakit yang dideritanya
-          Berikan informasi tentang prognosis secara akurat
-          Beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan rasa marah, takut, konfrontasi. Beri informasi dengan emosi wajar dan ekspresi yang sesuai
-          Jelaskan pengobatan, tujuan dan efek samping. Bantu pasien mempersiapkan diri dalam pengobatan
-          Catat koping yang tidak efektif seperti kurang interaksi sosial, ketidak berdayaan dll
-          Anjurkan untuk mengembangkan interaksi dengan support system
-          Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman
-          Pertahankan kontak dengan pasien, bicara dan sentuhlah dengan wajar.

2.      Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), efek samping therapi kanker ditandai dengan pasien mngatakan nyeri, pasien sulit tidur, tidak mampu memusatkan perhatian, ekspresi nyeri, kelemahan.
Tujuan :
-          Pasien mampu mengontrol rasa nyeri melalui aktivitas
-          Melaporkan nyeri yang dialaminya
-          Mengikuti program pengobatan
-          Mendemontrasikan tehnik relaksasi dan pengalihan rasa nyeri melalui aktivitas yang mungkin
Tindakan :
-          Tentukan riwayat nyeri, lokasi, durasi dan intensitas
-          Evaluasi therapi : pembedahan, radiasi, khemotherapi, biotherapi, ajarkan pasien dan keluarga tentang cara menghadapinya
-          Berikan pengalihan seperti reposisi dan aktivitas menyenangkan seperti mendengarkan musik atau nonton TV
-          Menganjurkan tehnik penanganan stress (tehnik relaksasi, visualisasi, bimbingan), gembira, dan berikan sentuhan therapeutik.
-          Evaluasi nyeri, berikan pengobatan bila perlu.
Kolaboratif
-          Disusikan penanganan nyeri dengan dokter dan juga dengan pasien
-          Berikan analgetik sesuai indikasi seperti morfin, methadone, narcotik dll

3.      Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker, konsekwensi khemotherapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa kecap, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri ditandai dengan pasien mengatakan intake tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun sampai 20% atau lebih dibawah ideal, penurunan massa otot dan lemak subkutan, konstipasi, abdominal cramping.
Tujuan :
-          Pasien menunjukkan berat badan yang stabil, hasil lab normal dan tidak ada tanda malnutrisi
-          Menyatakan pengertiannya terhadap perlunya intake yang adekuat
-          Berpartisipasi dalam penatalaksanaan diet yang berhubungan dengan penyakitnya
Tindakan :
-          Monitor intake makanan setiap hari, apakah pasien makan sesuai dengan kebutuhannya
-          Timbang dan ukur berat badan, ukuran triceps serta amati penurunan berat badan
-          Kaji pucat, penyembuhan luka yang lambat dan pembesaran kelenjar parotis
-          Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan tinggi kalori dengan intake cairan yang adekuat. Anjurkan pula makanan kecil untuk pasien.
-          Kontrol faktor lingkungan seperti bau busuk atau bising. Hindarkan makanan yang terlalu manis, berlemak dan pedas.
-          Ciptakan suasana makan yang menyenangkan misalnya makan bersama teman atau keluarga
-          Anjurkan tehnik relaksasi, visualisasi, latihan moderate sebelum makan
-          Anjurkan komunikasi terbuka tentang problem anoreksia yang dialami pasien
Kolaboratif
-          Amati study laboraturium seperti total limposit, serum transferin dan albumin
-          Berikan pengobatan sesuai indikasi
Phenotiazine, antidopaminergic, corticosteroids, vitamins khususnya A,D,E dan B6, antacida
-          Pasang pipa nasogastrik untuk memberikan makanan secara enteral, imbangi dengan infus.

4.      Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan masalahnya, pernyataan miskonsepsi, tidak akurat dalam mengikiuti intruksi/pencegahan komplikasi.
Tujuan :
-          Pasien dapat mengatakan secara akurat tentang diagnosis dan pengobatan pada tingkatan siap
-          Mengikuti prosedur dengan baik dan menjelaskan tentang alasan mengikuti prosedur tersebut
-          Mempunyai inisiatif dalam perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam pengobatan
-          Bekerjasama dengan pemberi informasi
Tindakan :
-          Review pengertian pasien dan keluarga tentang diagnosa, pengobatan dan akibatnya
-          Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatannya, ceritakan pada pasien tentang pengalaman pasien lain yang menderita kanker
-          Beri informasi yang akurat dan faktual. Jawab pertanyaan secara spesifik, hindarkan informasi yang tidak diperlukan
-          Berikan bimbingan kepada pasien/keluarga sebelum mengikuti prosedur pengobatan, therapy yang lama, komplikasi. Jujurlah pada pasien.
-          Anjurkan pasien untuk memberikan umpan balik verbal dan mengkoreksi miskonsepsi tentang penyakitnya
-          Review pasien /keluarga tentang pentingnya status nutrisi yang optimal
-          Anjurkan pasien untuk mengkaji membran mukosa mulut secara rutin, perhatikan adanya eritema, ulcerasi
-          Anjurkan pasien memelihara kebersihan kulit dan rambut

5.      Resiko tinggi kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan efek samping kemotherapi dan radiasi/radiotherapi
Tujuan :
-          Membrana mukosa tidak menunjukkan kerusakan, terbebas dari inflamasi dan ulcerasi
-          Pasien mengungkapkan faktor penyebab secara verbal
-          Pasien mampu mendemontrasikan tehnik mempertahankan/menjaga kebersihan rongga mulut
Tindakan :
-          Kaji kesehatan gigi dan mulut pada saat pertemuan dengan pasien dan secara periodik
-          Kaji rongga mulut setiap hari, amati perubahan mukosa membran. Amati tanda terbakar di mulut, perubahan suara, rasa kecap, kekentalan ludah
-          Diskusikan dengan pasien tentang metode pemeliharan oral hygine
-          Intruksikan perubahan pola diet misalnya hindari makanan panas, pedas, asam, hindarkan makanan yang keras
-          Amati dan jelaskan pada pasien tentang tanda superinfeksi oral
Kolaboratif
-          Konsultasi dengan dokter gigi sebelum kemotherapi
-          Berikan obat sesuai indikasi
Anagetik, topikal lidocaine, antimikrobial mouthwash preparation.
-          Kultur lesi oral

6.      Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal (vomiting, diare), hipermetabolik, kurangnya intake
Tujuan :
Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dengan tanda vital normal, membran mukosa normal, turgor kulit bagus, capilarry ferill normal, urine output normal.
Tindakan :
-          Monitor intake dan output termasuk keluaran yang tidak  normal seperti emesis, diare, drainse luka. Hitung keseimbangan selama 24 jam.
-          Timbang berat badan jika diperlukan
-          Monitor vital signs. Evaluasi pulse peripheral, capilarry refil
-          Kaji turgor kulit dan keadaan membran mukosa. Catat keadaan kehausan pada pasien
-          Anjurkan intake cairan samapi 3000 ml per hari sesuai kebutuhan individu
-          Observasi kemungkinan perdarahan seperti perlukaan pada membran mukosa, luka bedah, adanya ekimosis dan pethekie
-          Hindarkan trauma dan tekanan yang berlebihan pada luka bedah
Kolaboratif
-          Berikan cairan IV bila diperlukan
-          Berikan therapy antiemetik
-          Monitor hasil laboratorium : Hb, elektrolit, albumin

7.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemotherapi/radiasi), malnutrisi, prosedur invasif
Tujuan :
-          Pasien mampu mengidentifikasi dan berpartisipasi dalam tindakan pecegahan infeksi
-          Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi dan penyembuhan luka berlangsung normal
Tindakan :
-          Cuci tangan sebelum melakukan tindakan. Pengunjung juga dianjurkan melakukan hal yang sama
-          Jaga personal hygine pasien secara baik
-          Monitor temperatur
-          Kaji semua sistem untuk melihat tanda-tanda infeksi
-          Hindarkan/batasi prosedur invasif dan jaga aseptik prosedur
Kolaboratif
-          Monitor CBC, WBC, granulosit, platelets
-          Berikan antibiotik bila diindikasikan

8.      Resiko tinggi gangguan fungsi seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan/keterampilan tentang alternatif respon terhadap transisi kesehatan, penurunan fungsi/struktur tubuh, dampak pengobatan.
Tujuan :
-          Pasien dapat mengungkapkan pengertiannya terhadap efek kanker dan therapi terhadap seksualitas
-          Mempertahankan aktivitas seksual dalam batas kemampuan
Tindakan :
-          Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang proses seksualitas dan reaksi serta hubungannya dengan penyakitnya
-          Berikan advise tentang akibat pengobatan terhadap seksualitas
-          Berikan privacy kepada pasien dan pasangannya. Ketuk pintu sebelum masuk.

9.      Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan efek radiasi dan kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan :
-          Pasien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan kondisi spesifik
-          Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan penyembuhan
Tindakan :
-          Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker, amati penyembuhan luka.
-          Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal
-          Ubah posisi pasien secara teratur
Berikan advise pada pasien untuk menghindari pemakaian cream kulit, minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter










DAFTAR PUSTAKA

Purnomo. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta: CV.Sagung Seto. 2007. 69-
85
Birowo & Rahardjo. Pembesaran Prostat Jinak. 2000.
http://fkui.co.id/urologi/ppj.mht [diakses Juni 2008]
Leveillee. Prostate Hyperplasia, Benign. 2006. http://www.emedicine.com.
[diakses 2 Juni 2008]
Fadlol & Mochtar. Prediksi Volume Prostat pada Penderita Pembesaran Prostat
Jinak. Indonesian J of Surgery 2005; XXXIII-4; 139-145
Anonim. Normal Prostate and Benign Prostate Hyperplasia. 2008.
http://www_med_nyu_edu/healthwise/media/medical/nci/cdr0000462221/jpg.mht
[diakses 1 Juni 2008]
Kim & Belldegrun (eds). Urology Dalam Schwartz’s Manual Of Surgery, 8th
Edition, Brunicardi et al (eds). USA: Mc Graw-Hill Medical Publishing Division.
2006. 1036-1060
Suryawisesa, Malawat, Bustan. Hubungan Faktor Geografis Terhadap Skor Gejala
Prostat Internasional (IPSS) Pada Komunitas Suku Makassar Usia Lanjut Tahun
1998. Ropanasuri 1998; XXVI – 4; 1-10
Anonim. The Development of Benign Prostate Hiperplasia. 1998.
http://www_lef_org/magazine/graphics/pros1mar98_jpg.mht.[diakses 6 Juni 2008]
Sjamjuhidayat & De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2005. 782-6
Pheonix 5. Transurethral Prostatectomy. 2002.
http://www_phoenix5_org/glossary/graphics-turp/NIDDK/gif.mht [diakses 5 Juni
2008]
Doenges, Marilyn E, et all, Nursing Care Plans : Guidelines for Planning and Documenting Patient Care, Edition 3, F.A. Davis Company, Philadelphia, 1993

Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Edisi 1, Yayasan IAPK Pajajaran, Bandung 1996

Black, Joyce M & Esther Matassarin-Jacobs, Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Continuity of Care, Edisi 5, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1997
                 
 Alfaro, R. (1986). Application of Nursing Proces : Step by Step Guide, Philadelphia : J.B. Lipincot Company.
Donna D. Ignatavius, Kathy A.H, (1997), Medical Surgical Nursing, 2nd Edition, W.B. Saunders Co., Philadelphia.
Doenges M.E. (1989), Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ), .            Philadelpia, F.A. Davis Company.
Luckmann, J (1997), Saunders Manual Of Nursing Care, W.B. Saunders Co, Philadelphia.
Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach, St. Louis. Cv. Mosby Company.
Luckman N Sorensen, (1994), Medical Surgical Nursing, Fourth edition, W.B. Saunders   Co., Philadelphia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar