Rabu, 30 Mei 2012

LATIHAN OTOT ISOTONIK DAN ISOMETRIK


1.KONTRAKSI ISOTONIC 
         Kontraksi isotonic atau kontraksi dinamik meliputi dua macam bentuk.
a.Kontraksi kosentrik (otot memendek) adalah, kontraksi otot yang lebih umum, yang di dalam otot terdapat tegangan, penyebab otot kuat.
b.Kontraksi eksentrik (otot memanjang) terjadi apabila otot memanjang dan berada  dalam teganggan, tetapi dengan kecepatan yang berlawanan dengan gravitasi.
Contoh รจ weight training, adalah salah satu bentuk latihan isotonic yang paling terkenal.

Pengertian Kontraksi isometrik ialah kontraksi otot yg tidak disertai perubahan ukuran panjang, sehingga tidak terjadi gerak sendi, tetapi hanya terjadi kenaikkan tonus otot.

Teknik latihan kontraksi isometrik.

1.Diberi contoh dan pasien diminta untuk menirukan
2.Diminta menggerakkan bagian yg akan dilatih tetapi ditahan oleh terapisnya sehingga tidak terjadi gerakan.
3.Melakukan aktifitas tertentu sehingga otot yg akan dilatih berfungsi sebagai fiksator
4.Diminta mendorong sesuatu yg tidak mungkin bergerak.

Efek dan Penggunaannya.

1.Mencegah atrofi otot, digunakan pd kasus immobilisasi misalnya patah tulang yg sedang dipasang gips atau fiksasi lain.
2.Membangun volume otot, digunakan pada binaragawan atau otot yg atrofi.
3.Mengulur otot yg memendek, digunakan latihan Hold relax untuk menambah ROM sendi.
4.Meningkatkan stabilisasi sendi, digunakan pada kasus instabilitas sendi misalnya latihan rythmic stabilisasi pada pasien ataxia cerebellum.
5.Berakibat menaikkan tekanan darah, karena itu tidak baik bagi pasien dengan tekanan darah tinggi. Misalnya static bicycle, karena kedua tangan memegang stang berarti terjadi kontraksi isometrik otot lengan. Hati-hati kalau melatih pasien jantung dengan sepeda, harus sering kali kedua tangan lepas stang dan digerakkan.
6.Terjadi benturan tulang pd permukaan sendi, sehingga bagi sendi yg cidera bisa bertambah buruk. Karena itu hati-hati, jika perlu lakukan pada posisi sendi MLPP
(Maximaly Lost Pack Position) dimana space atau ruang diantara tulang pembentuk sendi paling lebar.
7. Menghilangkan/mengurangi edema (lymphoedema).


Dosis latihan : sesuai dg percobaan Hettinger and Muler
Frekuensi : setiap hari
Intensitas : maximal isometric contraction
Time : 6 sec /kontraksi
Type : kontraksi isometrik
Repetisi : 20 x kontraksi /20 sec. Interval / sesi latihan
Selama 9 mg rata-rata kekuatan otot naik 165 %, dan setelah 12 mg naik 170 %
Hypertrophy rata-rata naik 13 % diukur sircumferentia dlm mm.
Posisi sendi paling optimal jika dilakukan pada sudut sendi dimana otot secara mekanik menghasilkan output yang tertinggi (bisa diukur dengan dinamometer), atau jika tidak ada alat ukur bisa dilakukan dengan evaluasi subyektif oleh pasien maupun terapis.


Untuk mengurangi edema :

1. Sebaiknya dilakukan pada posisi elevasi
2. Bagian anggota yang edema mengenakan elastis bandage, dan sesudah latihan memakai garmen yang elastis.
3. Fase kontraksi 1 sec sdangkan fase relaks 5 sec. Ini seuai dengan fase pengosongan dan pengisian pd lymphatic collector (Piller at al 1992).
4. Latihan juga termasuk deep breathing agar memberikan tekanan negatif pada rongga toraks, sehingga cairan limfe mengalir lebih cepat di thoracic duct.
5. Otot yang dilatih dimulai dari otot-otot trunk dan lebih konsentrasi pada otot-otot besar mulai dari proksimal ke distal pada anggota yang edema.
6. Latihan dianjurkan setiap jam sekurangnya 3-5 menit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar